Pasar Sudah Move On dari Isu Resesi, Rupiah No 1 Asia!

Pasar Sudah Move On dari Isu Resesi, Rupiah No 1 Asia!

cnbcindonesia.com   |   Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia   |   Selasa, 26 Maret 2019

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini dibuka melemah di perdagangan pasar spot. Namun tidak lama kemudian rupiah berhasil bangkit.

Pada Selasa (26/3/2019), US$ 1 dihargai Rp 14.190 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Namun seiring perjalanan, rupiah berhasil membabat habis depresiasinya. Pada pukul 08:31 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.155 di mana rupiah sudah menguat 0,14%.

Kemarin, rupiah mengakhiri perdagangan pasar spot dengan depresiasi 0,11% terhadap dolar AS. Ini menjadi pelemahan selama 2 hari perdagangan beruntun karena pada akhir pekan lalu mata uang Tanah Air juga melemah 0,18%.

Rupiah berhasil berjalan di trek yang sama dengan mata uang utama Asia. Ya, hampir seluruh mata uang Benua Kuning mampu menguat di hadapan greenback dengan hanya menyisakan dolar Hong Kong, rupee India, dan yen Jepang di zona merah.

Bahkan rupiah mampu menjadi mata uang terbaik di Asia. Penguatan ini tentu menjadi penyegar setelah rupiah teraniaya sejak akhir pekan lalu.

Isu Resesi Sudah Basi?

Ada kemungkinan pelaku pasar mulai move on dari sentimen ancaman resesi di AS. Kemarin, sentimen ini seharian menggelayuti pasar keuangan Asia sehingga menciptakan koreksi di mana-mana termasuk rupiah.

Namun pagi ini Asia sudah lebih ceria. Tidak hanya di pasar valas, warna hijau juga mendominasi pasar saham. Pada pukul 08:18 WIB, indeks Nikkei 225 melesat dengan penguatan 1,54%, Kospi naik 0,37%, Straits Times bertambah 0,64%, dan KLCI (Malaysia) menguat 0,05%.

Sebenarnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS masih mengalami inversi. Pada pukul 08:20 WIB, yield surat utang pemerintah Negeri Paman Sam ada di 2,4588% sementara yang 10 tahun adalah 2,4248%.

Inversi, yield jangka panjang lebih tinggi dibandingkan jangka pendek, sebenarnya menjadi alat untuk meramal potensi resesi. Saat inversi di dua tenor obligasi tersebut terjadi secara konstan dalam waktu yang tidak sebentar, resesi kemungkinan datang dalam waktu 18 bulan ke depan.

Akan tetapi bisa jadi sentimen tersebut sudah tidak laku hari ini. Lagipula pelaku pasar juga menyimak pernyataan Eric Rosengren, Presiden The Federal Reserve/The Fed Boston, yang menegaskan bahwa bank sentral Negeri Adidaya masih berpegang teguh pada kebijakan moneter yang cenderung tenang alias kalem.

"Menghentikan kenaikan suku bunga acuan adalah sesuatu yang masuk akal untuk saat ini," ujarnya dalam seminar di Hong Kong, mengutip Reuters.

Pekan lalu, The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di 2,25,2,5% atau median 2,375%. Tidak hanya itu, The Fed juga memperkirakan suku bunga acuan masih berada di situ sampai akhir 2019. Artinya, tidak ada kenaikan sepanjang tahun ini.

Pernyataan Rosengren membuat pelaku pasar kembali bergairah memburu instrumen berisiko di negara berkembang Asia, termasuk Indonesia. Risk appetite sudah kembali, dan soal resesi mungkin bisa dilupakan untuk sementara waktu.