Likuiditas perbankan berlebih hingga Rp 500 triliun

keuangan.kontan.co.id   |   -   |   Jumat, 5 Oktober 2018

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga dan kondisi ekonomi yang belum stabil menyebabkan masyarakat dan korporasi lebih memilih menyimpan duit di bank.

"Likuiditas industri perbankan saat ini sekitar Rp 500 triliun, ekses likuiditasnya," kata Santoso, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kamis (3/10).

Wimboh menambahkan, likuiditas bank secara individu tidak ada masalah. Kondisi industri perbankan tumbuh bagus dengan rata-rata rasio kecukupan modal sekitar 23%.

Per Agustus 2018, pertumbuhan kredit 12,12% secara year on year (yoy) atau tahunan. Pertumbuhan kredit ini didorong oleh perbaikan harga komoditas yang mulai membaik.

Perbaikan harga komoditas ini mengungkit ekonomi di luar Jawa. Permintaan alat berat juga meningkat. Sejauh ini risiko kredit di indusri perbankan masih terkendali.

Menurut data OJK, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) perbankan masih terkendali. NPL perbankan terakhir per Agustus 2018 berada di 2,74%

Wakil Direktur Bank BNI Herry Sidharta mengatakan, saat ini, BNI berhasil menjaga likuiditas dengan baik. "Ini tecermin pada loan to deposit ratio (LDR) per Agustus 2018 yang stabil pada level 88,6%," kata Herry.

Bank BNI akan menggunakan strategi pengelolaan aset dan liabilitas secara efektif. Terutama pada pengelolaan dana murah atau current account saving account (CASA).

Presiden Direktur Maybank Indonesia Taswin Zakaria mengatakan, per Agustus 2018, LDR di posisi 95% hingga 96%. "LDR bank BUKU III tinggi di atas 100%, kami akan mengejar target ideal sebesar 92% hingga akhir tahun nanti ," ujar Taswin.

Demi memperbesar dana masyarakat, Maybank Indonesia akan semakin rajin menyasar segmen konsumen ritel.